Bismillah, No. Artikel: 03/V/2026
DUA TANDA KEBAIKAN
SHALAT DAN LISAN
Yunus bin Ubaid rahimahullah berkata,
“Dua hal dari seorang hamba yang apabila keduanya baik, baik pula hal-hal lainnya: shalatnya dan lisannya.” [Siyar A’lamin Nubala]
Perkataan ini sangat indah, karena beliau menunjukkan dua pintu besar yang mencerminkan keadaan hati seseorang: hubungannya dengan Allah melalui shalat, dan hubungannya dengan manusia melalui lisan.
Shalat adalah tiang agama. Bila shalat seseorang baik, ia sedang menjaga hubungan paling penting dalam hidupnya, yaitu hubungan dengan Allah Ta’ala. Shalat yang benar bukan hanya gerakan badan, tetapi juga ketundukan hati, keikhlasan, rasa takut kepada Allah, dan kesadaran bahwa hidup ini selalu diawasi oleh-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab, dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” [QS. Al-‘Ankabut: 45]
Ayat ini menunjukkan bahwa shalat yang benar akan membekas pada perilaku. Orang yang shalatnya terjaga semestinya semakin jauh dari dosa, semakin malu kepada Allah, dan semakin mudah kembali ketika tergelincir.
Adapun lisan, ia kecil bentuknya tetapi besar pengaruhnya. Dengan lisan seseorang bisa berdzikir, membaca Al-Qur’an, menasihati, dan menyenangkan hati saudaranya. Namun dengan lisan pula seseorang bisa jatuh dalam ghibah, dusta, adu domba, celaan, atau ucapan yang menyakiti.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Hadits ini menjadi kaidah besar dalam menjaga lisan. Tidak semua yang kita tahu harus diucapkan. Tidak semua yang kita rasakan harus dilampiaskan. Seorang mukmin belajar menimbang ucapan: apakah bermanfaat, apakah benar, apakah tepat waktunya, dan apakah tidak menyakiti tanpa alasan yang benar.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ
“Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya.” [HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i]
Ini menunjukkan betapa pentingnya memperbaiki shalat. Bila shalat adalah perkara pertama yang diperiksa, maka seorang muslim tidak boleh meremehkannya. Ia perlu memperhatikan waktunya, kualitas thuma’ninahnya, kekhusyukannya, serta syarat dan rukunnya.
Hikmah dari perkataan Yunus bin Ubaid rahimahullah adalah bahwa kebaikan seseorang bisa dilihat dari dua arah: ibadah dan akhlak. Ada orang yang tampak rajin ibadah, tetapi lisannya kasar dan mudah menyakiti. Ada pula yang pandai berbicara baik, tetapi lalai dari shalat.
Seorang muslim berusaha memperbaiki keduanya sekaligus: shalatnya agar dekat kepada Allah, dan lisannya agar selamat dalam pergaulan.
Para ulama salaf sangat berhati-hati terhadap lisan. Mereka memahami bahwa banyak dosa muncul bukan karena tangan bergerak, tetapi karena mulut tidak dijaga. Karena itu, memperbaiki lisan termasuk tanda keseriusan seseorang dalam memperbaiki hati. Sebab lisan sering menjadi juru bicara isi hati.
Dalam pengamalan sehari-hari, kita bisa mulai dari hal sederhana:
- Menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya, belajar memahami bacaan shalat,
- Menghadirkan hati ketika shalat, tidak terburu-buru dalam gerakan, dan memperhatikan syarat dan rukunnya,
- Untuk lisan, biasakan berpikir sebelum bicara, kurangi komentar yang tidak perlu, jauhi ghibah, dan perbanyak dzikir serta ucapan yang berfaidah dan memberi keselamatan.
Ikhtisar
Dua tanda besar kebaikan seorang hamba adalah shalat dan lisannya. Shalat menunjukkan hubungannya dengan Allah, sedangkan lisan menunjukkan akhlaknya kepada manusia. Jika shalat baik, hati akan lebih mudah tunduk. Jika lisan baik, hubungan dengan sesama akan lebih selamat. Maka siapa yang ingin memperbaiki hidupnya, hendaknya mulai dari menjaga shalat dan menjaga ucapan.
Referensi
- Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, biografi Yunus bin Ubaid rahimahullah,
- Al-Qur’an, QS. Al-‘Ankabut: 45,
- HR. Al-Bukhari dan Muslim: “Berkatalah yang baik atau diam.”,
- HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i: hadits tentang shalat sebagai amalan pertama yang dihisab.


Leave a Reply